| Selasa, 23 Desember 2008 | |
| Terasa Gatal dan Panas di Kulit BATAM - Limbah yang diduga bahan berbahaya dan beracun (B3) berserakan di sepanjang drainase kawasan Kabil Industrial Estate (KIE). Limbah berbentuk cairan hitam tersebut sangat meresahkan masyarakat sekitar karena saat mengenai kulit, menimbulkan rasa gatal dan panas. Diduga kuat, limbah tersebut telah mencemari laut di sekitar pantai Nongsa. Diperkirakan, limbah tersebut jenis mercuri yang dihasilkan dari pemurnian pipa, produksi PT Citra Tubindo di KIE. Jika benar berjenis mercuri, maka limbah tersebut termasuk B3 yang sangat berbahaya bagi manusia. Lembaga Kajian Lingkungan Kepri (Lakri) telah mengambil sampel limbah untuk diuji di laboratorium. Pantauan dari sejumlah titik, minyak hitam tersebut berserakan dan menempel di sampah-sampah dan struktur tanah drainase tersebut. Selain mengeluarkan aroma yang kurang sedap, limbah yang menempel di sampah terasa panas dan gatal di tangan. "Kita belum berani mengambil kesimpulan minyak yang mudah didapat dari drainase ini apakah berbahaya atau tidak," ujar Azman Ketua Lingkar Kesehatan Batam saat mengambil sampel dil lokasi. Azman mengatakan, limbah hitam tersebut berbahaya bagi kesehatan warga di sekitar perairan Nongsa. Untuk itu, katanya, sampel yang sudah diambil akan dikirimkan ke laboratorium untuk mengetahui jenis zat serta kadar bahaya yang dikandung. "Dari hasil laboratorium nanti, kita dapat mengetahui apakah berbahaya bagi kesehatan masyarakat atau tidak. Namun yang jelas, limbah ini langsung menghasilkan reaksi ketika dipegang atau disentuh. Saya saja sangat merasakan gatal dan panas setelah terkena minyak ini. Dapat dibayangkan jika minyak ini mencemari laut, sudah pasti akan berbahaya," ujarnya. Dijelaskan, sampel limbah yang diambil dari sejumlah titik drainase tersebut akan dipublikasikan ke masyarakat luas dalam waktu dekat. Dan dari hasil uji laboratorium nantinya, akan diketahui unsur kimia yang terkandung dari limbah itu sendiri. "Setelah kita mengetahui unsurnya, baru dapat diambil kesimpulan tentang dampak negatifnya bagi tubuh manusia. Dan jika memang tercemar ke perairan Nongsa, akan sangat mengancam kesehatan masyarakat sekitarnya," katanya. Disebutkan, jika benar-benar unsur limbah yang ditemukan ini berdampak terhadap kesehatan masyarakat, Lingkar Kesehatan Batam akan merangkul seluruh aktifis untuk menentang manajemen KIE. "Kita akan ajukan boikot produk KIE, baik di dalam negeri maupun di luar negeri," ujarnya. "Sering kita melihat adanya cairan hitam yang mengalir melalui parit di KIE ke laut. Dan mungkin yang terbuang ke laut adalah jenis limbah. Tetapi yang jelas saat ini tidak ada lagi ikan yang bisa ditangkap," ujar salah seorang nelayan bernama Ubay. Kaum nelayan menduga, limbah PT Citra Tubindo dikelola secara alami. Limbah cair itu merupakan proses akhir setelah proses produksi dan dialirkan ke laut bersamaan dengan air hujan. "Kita sering merasakan adanya limbah yang sampai ke laut kalau hujan turun. Dan masuknya limbah cair tersebut ke laut melalui drainase. Makanya kita sering mengatakan kalau penanganan limbah di KIE dilakukan oleh alam," ujar nelayan lain yang mengaku bernama Uyab. Sebelumnya, Sony, penanggung jawab pengelolaan limbah KIE, membantah adanya limbah B3, yang mencemari laut. Dikatakan, pihaknya sudah mengelola dengan baik limbah yang dihasilkan. Sony bahkan menilai informasi tersebut bersumber dari orang yang tidak bertanggung jawab saja. (sm/ed/ms) |
Rabu, 24 Desember 2008
Limbah Hitam Menyebar di Drainase KIE
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar